Kamis, 06 April 2017

Rumah Sakit Harus "Sehat"

sumber: daftartempat.com

Membahas tentang implementasi BPJS Kesehatan memang tidak akan pernah ada habisnya, mulai dari cerita tentang masalah yang ditimbulkannya sampai dengan manfaatnya. Mari kita fokus kepada tata kelola fasilitas kesehatan yang bernama Rumah Sakit. Rumah Sakit adalah organisasi yang benar-benar merepresentasikan sebuah sistem integral yang sesungguhnya, mulai dari manajemen sumber daya manusia yang terbilang sangat kompleks (karena melibatkan beberapa profesi dengan egonya masing-masing), sistem penjadwalan sarana prasarana, manajemen keuangan, strategi pemasaran, manajemen persediaan farmasi, serta masalah lainnya. Rumah Sakit yang termasuk kedalam kategori milik Pemerintah atau Instansi TNI/POLRI sudah merupakan suatu kewajiban untuk melayani pasien BPJS Kesehatan sebagai suatu hal yang bersifat mandatory. Berbeda dengan Rumah Sakit milik Swasta, dimana mereka tetap memiliki kewajiban sebagai mitra BPJS Kesehatan namun tentunya masih diberi ruang untuk mengatur jumlah kuota peserta BPJS Kesehatan disesuaikan dengan kemampuan finansial dan operasionalnya. 

Permasalahan awal yang seringkali diungkapkan oleh para pimpinan dan manajemen Rumah Sakit baik milik pemerintah maupun swasta adalah adanya pergeseran cara pandang masyarakat Indonesia dimana dengan adanya BPJS Kesehatan dianggap sebagai sebuah “kado” atau “hadiah” dari Pemerintah untuk rakyatnya dalam upaya menggunakan dan memanfaatkan layanan kesehatan semaksimal mungkin. Atau dengan kata lain masyarakat yang dulunya belum terbiasa memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, sekarang berbondong-bondong untuk memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan. Sehingga menjadi hal yang lumrah jika terjadinya antrian yang panjang di hampir sebagian besar Rumah Sakit. 

Apabila kita menggunakan cara pandang lama, memang sepertinya peningkatan jumlah pasien atau pengunjung di sebuah Rumah Sakit seolah-olah menjadi sebuah “berkah” karena dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan. Namun, hal tersebut tidaklah berlaku sejak era BPJS Kesehatan. Dimana visi dari implementasi BPJS Kesehatan adalah mengurangi angka kesakitan dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara umum. Oleh karena itu, dengan membludaknya angka kunjungan pasien ke sebuah Rumah Sakit akan berpotensi menimbulkan permasalahan baru dalam kondisi arus kas (cash flow) dan juga tingkat kebahagiaan tenaga medis maupun paramedis, karena dalam sistem BPJS Kesehatan seorang tenaga medis harus benar-benar mengikuti prosedur yang ada dalam melakukan diagnosis dan tindakan medis. Termasuk didalamnya berkaitan dengan jenis dan jumlah obat yang diberikan kepada pasien harus benar-benar sesuai dengan pagu yang telah ditetapkan oleh pihak BPJS Kesehatan yang akan berdampak kepada jumlah jasa medis yang diterimanya. Sehingga Rumah Sakit harus menanggung biaya akibat adanya ketidaksesuaian antara diagnosis dan tindakan medis dengan prosedur dan pagu yang telah ditetapkan oleh BPJS Kesehatan. Akibatnya banyak Rumah Sakit di Indonesia yang mengalami kesulitan keuangan atau bahkan hampir mengalami kolaps atau bangkrut karena tidak mampu menutup biaya operasionalnya. 

BPJS Kesehatan memang bukanlah satu-satunya alasan timbulnya permasalahan keuangan di beberapa Rumah Sakit tersebut. Ada banyak faktor yang harus diselesaikan secara komprehensif dan holistik. Misalnya Rumah Sakit milik Pemerintah Daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) relatif minim dan Rumah Sakit Swasta yang berada dibawah naungan suatu Yayasan atau Perusahaan dengan kondisi keuangan yang tidak stabil atau tidak memiliki unit bisnis lain sebagai penopang akan memiliki peluang lebih besar mengalami kesulitan keuangan. Namun, bukan berarti Rumah Sakit dengan “dana cadangan” yang memadai tidak akan menghadapi permasalahan keuangan juga.

Berikut penulis mencoba memberikan sedikitnya 3 (tiga) solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pertama, pemanfaatan teknologi informasi mutlak dilakukan secara komprehensif. Sebagai contoh Rumah Sakit yang termasuk tipe A dan tipe B sudah saatnya menerapkan Enterprise Resources Planning (ERP) untuk tata kelola sistem yang terintegrasi. Jika sistem ERP diterapkan pada kedua tipe Rumah Sakit tersebut, pihak pimpinan akan dengan mudah melakukan monitoring terhadap operasional dan kondisi finansial secara real time dan online. ERP dimaksud tidak perlu memiliki nilai investasi yang “fantastis” seperti halnya SAP maupun ORACLE, namun yang harus bisa disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan Rumah Sakit tersebut, atau dengan memanfaatkan Sistem “Open ERP”. Kedua, sudah saatnya menjadikan Tenaga Medis dan Paramedis sebagai “Partner” dan “Human Capital”. Sehingga upaya menanamkan rasa memiliki yang tinggi terhadap keberlanjutan tempatnya bernaung akan menjadi efektif. Dampaknya adalah kesalahan administrasi yang dilakukan oleh tenaga medis atau paramedis yang akan berdampak pada tertundanya atau terganggunya proses pencairan dari pihak BPJS Kesehatan akan dapat dihindarkan. Ketiga, pimpinan dan manajemen Rumah Sakit sudah saatnya menyiapkan beberapa layanan yang sifatnya “Premium” dengan kualitas pelayanan dan sarana prasarana yang lebih baik. Layanan “Premium” ini memang ditujukan untuk pasien dengan segmen menengah keatas. Pihak pimpinan Rumah Sakit dapat menetapkan tarif yang lebih tinggi. Selain itu dapat menjalin kerjasama dengan beberapa Perusahaan Asuransi yang tergolong “Premium” juga, sehingga pendapatan yang masuk dapat dijadikan sebagai “Keuntungan Bersih” Rumah Sakit dan dapat membantu operasional layanan yang diperuntukkan bagi peserta BPJS Kesehatan. Tentunya Layanan “Premium” ini harus benar-benar terasa beda kualitasnya oleh pihak konsumen. Jangan sampai alih-alih untuk meningkatkan “keuntungan” Rumah Sakit malah akan menjadi “Beban Baru”. Layanan “Premium” setidaknya harus didukung pula oleh teknologi informasi dan komunikasi yang mumpuni sehingga pasien diposisikan sebagai mitra “Prioritas”. 

Artikel ini telah dimuat pada Rubrik Opini HU Pikiran Rakyat tanggal 6 April 2017

Selasa, 28 Maret 2017

Dokter dan Pembangunan

Tulisan ini diilhami dari kegagalan penulis menembus Fakultas Kedokteran 17 tahun yang lalu dikarenakan menderita buta warna parsial, yang menyebabkan mimpi dan cita-cita menjadi dokter harus ditutup rapat-rapat. Tapi kita harus senantiasa percaya kepada Takdir Ilahi yang terkadang berbeda dengan ekspektasi seorang manusia. Penulis teringat dengan ucapan H. Dedy Mizwar yang sangat terkenal pada sebuah serial religius ditayangkan secara rutin di sebuah televisi swasta yaitu “Ada Rahasia dibalik Rahasia”. Rahasia Alloh SWT itulah yang mengantarkan penulis kepada kepedulian yang sangat tinggi terhadap peran aktif sebuah profesi mulia di muka bumi ini yaitu dokter.
Dokter sampai saat ini masih merupakan profesi yang diidamkan oleh jutaan anak manusia khususnya di Indonesia. Dokter masih dianggap sebagai profesi yang dapat menjadi kebanggaan pihak keluarga. Dokter masih dianggap sebagai profesi yang dapat meningkatkan harkat dan martabat seseorang di lingkungan masyarakat. Dokter juga masih dianggap sebagai profesi yang secara cepat dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Serta dokter juga masih dianggap sebagai profesi yang memiliki nilai tambah tertinggi dibandingkan dengan profesi lainnya.
Semua pernyataan tersebut ada benarnya walaupun tidak dapat dikatakan 100% tepat. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah fenomena yang mungkin saja akan sangat sulit untuk dihilangkan dalam benak masyarakat secara umum. Tidak heran jika orang tua bersedia merogoh koceknya sangat dalam hanya untuk dapat menyekolahkan anaknya ke Fakultas Kedokteran (baik PTN maupun PTS), dengan harapan bahwa selepas anak tersebut lulus menjadi dokter dapat meningkatkan derajat kehormatan orang tua dan keluarga besarnya. Fenomena ini tidak serta merta dapat berjalan dengan mulus apabila sang anak ternyata tidak mendapatkan “passion-nya” di bidang kedokteran.
Terlepas dari fenomena tersebut, akhir-akhir ini masih hangat didalam ingatan kita profesi dokter kembali menjadi sorotan masyarakat dengan adanya kasus vaksin palsu. Kasus ini menyisakan beberapa kisah pilu yang menimpa profesi mulia ini, dimana masyarakat yang merasa dirugikan menjadikan dokter sebagai sasaran hujatan, cercaan, hinaan bahkan kekerasan secara fisik. Kasus ini disimpulkan oleh sebagian kalangan menyeret profesi mulia ini sebagai aktor utama yang harus bertanggung jawab secara penuh. Pertanyaan berikutnya adalah apakah adil dan wajar apabila kemarahan publik karena kasus vaksin palsu hanya menjadi tanggung jawab dokter? Tentunya kita semua sepakat bahwa kasus tersebut melibatkan sebuah sistem yang dikenal sebagai sistem tata kelola dan manajemen layanan kesehatan. Berarti dokter hanyalah sebuah entitas yang harus turut bertanggung jawab karena menjadi “eksekutor” akhir yang berhubungan langsung dengan pasien dan masyarakat.
Masalah lain yang tidak kalah seru adalah ditolaknya permohonan untuk meninjau kembali Pasal 66 Ayat (3) UU No 29/2004 oleh Mahkamah Konsutitusi beberapa waktu yang lalu, dimana seorang dokter akan sangat rentan untuk dipidanakan tanpa harus melalui pertimbangan matang dan sistematis dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Tentunya kita masih ingat dengan kasus dr. Prita vs RS Omni serta kasus dr. Ayu di Manado pada saat melakukan tindakan medis yang berujung pada masalah pidana. Ditambah dengan semakin gencarnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam upaya pencegahan gratifikasi yang juga menyentuh dunia praktik kedokteran baik yang menjadi Apartur Sipil Negara (ASN) maupun dokter swasta murni. Semua hal tersebut tentunya bukan tanpa sebab dan alasan. Kita harus secara jujur dan rendah hati mengakui bahwa hanya dikarenakan ulah para “oknum dokter” yang tidak bertanggung jawab berdampak sangat luas kepada marwah dan kehormatan profesi yang amat sangat mulia ini. Marilah kita mundur kebelakang melihat sosok dr. Cipto Mangunkusumo sebagai contoh nasional dan dr. Hasan Sadikin sebagai contoh lokal yang secara tulus dan sungguh-sungguh berupaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan sejahtera, jauh sebelum adanya program JKN BPJS/KIS maupun Indonesia Sehat 2019. Artinya masih banyak dokter di Indonesia yang memiliki profil seperti dr. Cipto dan dr. Hasan Sadikin. Tengok saja bagaimana perjuangan para dokter “internship” yang akhirnya harus gugur pada saat mengabdikan ilmunya di daerah-daerah terpencil. Serta masih banyak contoh lainnya yang patut diteladani oleh para dokter.
Kita sadar bahwa tujuan utama dari Millennium Development Goals (MDGs) 2015 belum sepenuhnya tercapai. Lalu bagaimana peran dokter di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan dibidang kesehatan serta dalam rangka menuju “Indonesia Sehat 2019”? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Penulis mencoba membagi solusi alternatif bagi para dokter agar benar-benar berperan nyata dalam pembangunan berkelanjutan dalam 5 (lima) point. Pertama, dokter harus dikembalikan lagi pada peran utamanya sebagai seorang profesional dalam kegiatan analisis, diagnosis, riset dan tindakan medis demi menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat. Artinya ada upaya mengurangi peran dokter dalam bidang struktural  yang tidak ada kaitan langsung dengan profesinya. Kedua, pendidikan dokter harus kembali terjangkau baik dari sisi biaya, akses maupun proporsi jatahnya untuk memperoleh SDM kedokteran yang benar-benar berkualitas. Kita harus mengapresiasi langkah yang dilakukan Rektor UNPAD bersama Dekan Fakultas Kedokteran UNPAD yang “berani” membuat program pendidikan kedokteran gratis sebagai salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah distribusi dokter yang tidak seimbang antara kota dengan daerah. Ketiga, dokter harus mulai mewujudkan adanya kepastian waktu baik untuk menunggu maupun melakukan tindakan medis. Hal ini dapat didukung dengan teknologi informasi yang terintegrasi dan rekam medis dalam bentuk elektronik, sehingga sistem akan dengan mudah mengkalkulasi berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang dokter dalam melakukan tindakan medis sesuai diagnosisnya. Keempat, mulai dikuranginya sistem feodalisme yang tidak perlu dan diciptakannya kolaborasi nyata dengan profesi bidang kesehatan lainnya sebagai sebuah tim yang utuh, tanpa adanya superior maupun inferior. Kelima, peningkatan kemampuan komunikasi verbal seorang dokter agar terhindar dari adalah miskomunikasi maupun mispersepsi baik dengan sejawat maupun dengan pasien. Semangat terus para dokter Indonesia. Kami berhutang budi atas jerih payahmu demi terciptanya masyarakat Indonesia yang sehat dan sejahtera. Tetap pegang teguh “sumpah mulia” sebagai dokter. Idealismemu akan sangat membantu menjaga nilai dan kehormatan profesi tetap berada pada posisi yang mulia.

Tulisan ini telah dimuat pada Harian Umum Pikiran Rakyat pada tanggal 7 September 2016

Rabu, 25 Februari 2015

Pentingnya Komunikasi Verbal Bagi Seorang Dokter

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang begitu pesat, disadari atau tidak dapat berdampak kepada kemampuan komunikasi verbal seseorang tidak terkecuali profesi dokter. Karakteristik pasien saat ini tidak hanya mementingkan seberapa hebat kemampuan (hard skill) seorang dokter, namun juga sampai sejauh mana kemampuan komunikasi verbal dokter tersebut dapat mempengaruhi tingkat sugesti pasien dalam menghadapi suatu penyakit. 

Komunikasi verbal disadari atau tidak masih dianggap sebagai media interaksi antar manusia yang paling efektif. Keuntungan dari komunikasi verbal adalah kedua belah pihak baik itu pemberi (speaker) maupun pendengar (listener) dapat terlibat secara langsung dan aktif dalam topik pembicaraan. Kedua belah pihak dapat saling memperhatikan tidak hanya substansi dari apa yang sedang dibicarakan, namun juga dapat menganalisis mimik muka, bahasa tubuh serta intonasi. Hal-hal tersebut dinilai cukup penting untuk tetap diterapkan dalam praktek kedokteran profesional di Indonesia. Sebagian besar Fakultas Kedokteran di Indonesia saat ini rasanya sudah mulai menyadari akan pentingnya komunikasi verbal, salah satu buktinya adalah pada Program Pendidikan Dokter Spesialis di beberapa rumah sakit pendidikan di Indonesia telah sejak lama diterapkan forum-forum diskusi antar residen dan konsulen untuk membahas suatu kasus penyakit yang unik. Salah satu tujuannya adalah untuk terus melatih kemampuan komunikasi verbal dari seorang dokter, sehingga pada saatnya nanti terjun langsung di masyarakat dapat dengan mudah beradaptasi dan tentunya akan menjadi mitra yang menyenangkan untuk masyarakat secara umum.

Upaya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi verbal seorang dokter tidak saja berhenti pada kegiatan-kegiatan rutin di lingkungan internal rumah sakit, namun juga IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sebagai organisasi yang paling dihormati oleh para dokter yang sudah sejak lama memberikan terobosan-terobosan guna perbaikan layanan kesehatan di Indonesia khususnya berkaitan dengan komunikasi itu sendiri, namun harus menjadi suatu kesadaran pribadi para dokter itu sendiri. Salah satu langkah yang perlu segera dilakukan oleh para stakeholder adalah mulai menanamkan pada diri para dokter, bahwa untuk dapat memiliki kemampuan komunikasi verbal yang baik haruslah belajar menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu (good speaker is a good listener). Secara pribadi saya mencoba mencontohkan salah seorang dokter yang memiliki kemampuan komunikasi verbal yang cukup baik adalah dr. Purboyo Solek, Sp.A(K). Beliau adalah ahli neurologi anak dari RSHS Bandung. Sesuai dengan bidang spelisasi yang digelutinya, dr. Purboyo mencoba menanamkan kesan positif kepada seluruh pasien yang pertama kali ditemuinya, karena kesan pertama yang baik setidaknya akan mengurangi "trauma" pada diri pasien (khususnya pasien anak). Selain dr. Purboyo, masih banyak lagi contoh dokter yang secara terus-menerus berupaya untuk selalu meningkatkan kemampuan komunikasi verbal khususnya dengan pasien. Sebagai penutup tulisan ini, saya mengajak para dokter di seluruh wilayah Indonesia untuk semakin menyadari akan pentingnya kemampuan komunikasi verbal baik untuk kepentingan komunikasi dengan sejawat maupun komunikasi dengan pasien. 

"Dokter dengan kemampuan komunikasi verbalnya baik, pastilah akan menjadi teman yang menyenangkan bagi para kolega dan para pasien".

@oktri15

Selasa, 24 Februari 2015

Dokter Ramah & Komunikatif? WAJIB!!!

Tulisan ini sebenarnya merupakan harapan besar saya pribadi untuk kualitas layanan kesehatan di Indonesia. Ide ini muncul berawal dari rentetan panjang pengalaman pribadi bersinggungan dengan dunia kesehatan dimulai dari tahuan 1981 sampai dengan saat ini. Analisis pribadi didukung oleh hasil wawancara dengan beberapa stakeholder di bidang kesehatan mulai dari tahun 2004 sampai dengan saat ini menemukan suatu kesimpulan sederhana yaitu tingkat kesembuhan seorang pasien (diluar faktor medis dan juga tindakan medis) akan sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan interpersonal yang dibangun didalam suatu sistem layanan kesehatan. Sebagai contoh seorang anak akan dengan senang hati untuk datang ke dokter anak maupun dokter gigi bukan semata-mata karena dokter tersebut memiliki keahlian (hard skill) yang sangat mumpuni, namun lebih karena adanya kesan awal yang sangat positif terhadap fasilitas dan juga tenaga medisnya. Dokter yang mampu berkomunikasi verbal secara baik dengan pasiennya, niscaya akan lebih disenangi. Dokter yang mampu memberikan nuansa optimis kepada pasien, juga sangat dinanti oleh setiap orang khususnya warga negara Indonesia.

Sebenarnya cukup klasik apabila kualitas layanan kesehatan kita coba bandingkan dengan Singapura. Pengalaman pribadi mulai tahun 2012 meneliti hal-hal yang berkaitan dengan kualitas layanan kesehatan di Singapura, sebenarnya tidak menemukan jawaban yang terlalu "WAH". Keberhasilan Singapura dalam mengelola layanan kesehatan tidak lepas dari perubahan mindset para stakeholdernya, dimana dokter, paramedis, dan tenaga pendukung lainnya sudah diperlakukan sebagai "HUMAN CAPITAL", dan tidak lagi menggunakan istilah "HUMAN RESOURCES". Artinya seorang dokter cukup "PRAKTEK" di 1 tempat saja, namun secara finansial telah aman. Pasien sebagai mitra utama rumah sakit dan dokter benar-benar diperlakukan secara "MANUSIAWI", walaupun sadar ataupun tidak nilai uang yang harus dibayarkan oleh pasien tidaklah sedikit. Waktu menunggu pasien di rumah sakit menjadi semakin "PASTI", sehingga secara psikologis pasien tidak harus membuang waktunya dengan percuma di rumah sakit. Dan yang terpenting adalah dokter lebih mengutamakan pendekatan secara humanis (dengan ramah, komunikatif dan selalu memberikan kesan positif kepada pasien).

Semoga ada orang-orang bijak di Kementerian Kesehatan RI, Rumah Sakit Pendidikan, RSUD, RS Swasta dan pimpinan Fakultas Kedokteran di Indonesia yang menyadari hal-hal tersebut, dan memulai perbaikan kualitas "MANPOWER-nya" dalam hal ini seorang dokter. Dokter yang ramah akan memberikan kesan yang positif kepada pasien. Dokter yang ramah akan membuat rumah sakit menjadi "SAHABAT" bagi setiap orang. Dan yang terpenting adalah Waktu Menunggu yang "PASTI" akan membuat rupiah kita tidak perlu terbang ke negeri Singa maupun Malaysia.

Saya yakin, kemampuan (hard skill dan soft skill) dokter Indonesia tetaplah yang TERBAIK! Amin.

@oktri15

Dokter dan Smartphone


Penggunaan smartphone di kalangan tenaga medis saat ini bukan saja diperuntukkan untuk kepentingan komunikasi secara pribadi, namun juga sudah mengarah kepada suatu kebutuhan mendasar khususnya berkaitan dengan komunikasi dengan sejawat. Smartphone dengan berbagai macam fitur yang menjanjikan berdampak secara positif kepada pemanfaatan yang lebih produktif di kalangan dokter. Salah satunya adalah dengan fitur chatting seperti (BBM, whatsapp, line, dll.). Para dokter baik yang bertugas di Rumah Sakit Pendidikan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Rumah Sakit Swasta dan sarana pelayanan kesehatan lainnya sudah mulai menggunakan fitur-fitur pada smartphone dengan tujuan untuk mempercepat proses pertukaran informasi dan pengetahuan, sehingga pada akhirnya akan berdampak secara sistematis kepada peningkatan kualitas tindakan medis yang diberikan. Alasan lainnya dari penggunaan smartphone ini berdasarkan hasil penelitian Firdaus dkk. (2013) yang dipresentasikan pada Forum Informatika Kesehatan Indonesia (FIKI) 2013 di Semarang beberapa waktu lalu adalah untuk mengurangi kemungkinan terjadinya "DISTORSI" apabila pertukaran informasi dan pengetahuan antar dokter ini menggunakan media telepon. Selain itu juga fitur-fitur di Smartphone dapat sekaligus sebagai media penyimpanan yang efektif (dilihat dari kapasitas simpannya yang cukup besar), sehingga apabila informasi dan pengetahuan tersebut sewaktu-waktu diperlukan kembali, akan dengan mudah memperolehnya. Namun, adapun hal yang perlu dicermati dan selalu menjadi perhatian para dokter adalah walaupun smartphone mempermudah proses pertukaran informasi dan pengetahuan, tetap saja harus mengacu kepada kode etik praktek kedokteran yang berlaku di negara Republik Indonesia tercinta ini. Semoga smartphone benar-benar berfungsi sebagai "Telepon Pintar" bagi para dokter di Indonesia. 



@oktri15

Minggu, 26 Februari 2012

Hak Anak untuk Tetap Aman, Nyaman dan Selamat di Jalan Raya


Tulisan ini terinspirasi oleh keprihatinan seorang ayah dari 1 orang putra yang hampir setiap hari melihat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor khususnya roda dua di Indonesia yang semakin tidak terkendali. Persoalan utamanya bukan saja pada peningkatan jumlah kendaraan roda dua di Indonesia yang membuat penurunan tingkat kenyamanan berkendara di jalan raya (karena macet), namun yang sampai saat ini masih mengganjal adalah masih rendahnya tingkat kesadaran pengendara sepeda motor akan pentingnya keselamatan dirinya maupun pengguna jalan yang lain.

Persoalan yang cukup memprihatinkan adalah setiap pagi saya berangkat menuju RS Hasan Sadikin dan ITB, banyak sekali pemandangan yang sangat memprihatinkan, salah satunya adalah masih banyak pengendara sepeda motor yang membonceng anak kecil (bahkan bayi) memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi dan seringkali anak kecil tersebut tidak dilengkapi oleh alat pelindung diri yang memadai (tanpa menggunakan HELM maupun tidak menggunakan tali pengaman saat berboncengan). Saya sebagai seorang ayah dari 1 anak lelaki, sangat menyayangkan kondisi tersebut, hal ini dikarenakan anak kecil (ataupun bahkan bayi) merupakan generasi penerus bangsa tercinta ini dan sekaligus sebagai harapan menuju titik cerah masa depan bangsa Indonesia secara umum.

Kondisi tidak jauh berbeda seringkali terlihat khususnya pada masa-masa mudik lebaran. Tidak sedikit orang tua yang rela “menyiksa” anak-anaknya dengan perjalanan sangat jauh menuju kampung halaman dengan menggunakan sepeda motor. Bukan saja akan berdampak buruk dari sisi fisik, namun yang lebih penting lagi adalah dampak psikologis bagi anak tersebut dikemudian hari (apabila pada saat perjalanan terjadi kecelakaan lalu lintas maupun hal-hal negatif lainnya).

sumber: theyoungapollo.blogspot.com
Kembali kepada permasalahan masih minimnya kesadaran para pengendara sepeda motor akan keselamatan khususnya bagi anak-anak, kejadian yang sangat mengiris hati terjadi pada hari Senin 27 Februari 2012 di jembatan layang Pasupati Bandung. Saya menyaksikan seorang ayah mengendarai sepeda motor bersama anaknya yang masih sangat kecil (mungkin asumsi saya umur anak tersebut dibawah 1 tahun) dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan, khususnya mengenai keselamatan sang anak. Sang ayah hanya berpegangan satu tangan yaitu tangan kanannya kepada kemudi sepeda motor (asumsi saya motor yang digunakan adalah jenis matic) dan tangan kirinya memegang erat anaknya yang masih kecil itu di pangkuan sang ayah. Astagfirulloh... saya sedih melihat kondisi tersebut, karena insting sebagai seorang ayah mendorong saya untuk berkata : “Apakah tidak ada cara lain yang lebih aman khususnya bagi sang anak dalam menggunakan alat transportasi???”. Saya hanya bisa berharap dan berdo’a kepada Alloh SWT untuk keselamatan sang anak dan sang ayah tersebut.

Kejadian tersebut bukanlah yang pertama saya alami, sudah sekian banyak kejadian-kejadian yang hampir serupa terjadi dan terus terjadi di lalu lintas kota Bandung tercinta. Pertanyaan berikutnya adalah : “Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan tanpa harus bergantung terus kepada kesadaran para pemimpin kita???” Hal kecil yang mungkin bisa langsung kita lakukan adalah dengan tidak meniru tindakan tersebut khususnya kepada anak kita tercinta. Kondisi tersebut juga merupakan cerminan bahwa perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah terhadap pentingnya sarana transportasi umum yang aman, nyaman, dan juga murah masihlah sangat jauh dari harapan. Mari kita tengok 3 (tiga) negara tetangga kita yaitu Singapore, Malaysia dan Thailand. Pemerintah mereka sangat sadar bahwa “Human Capital” sangatlah penting bagi kemajuan bangsanya, sehingga untuk mendukung produktivitas dan kelangsungan hidup warga negaranya mereka sudah sadar betul akan pentingnya alat transportasi umum seperti SkyTrain, Monorel, MRT dan lain sebagainya.

Semoga kita semua dapat menyikapi kondisi tersebut diatas, dan tetap menempatkan bahwa keselamatan diri sendiri dan khususnya keselamatan anak kita tercinta pada saat berlalu lintas di jalan raya adalah segalanya. Dan janganlah lelah untuk terus berusaha memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.
sumber: ridetua.wordpress.com
My wife and my son is my life, and my life more valuable with my wife and my Son.  Love u my wife and my son...

Senin, 16 Januari 2012

Perjalanan 4 Hari di Bangkok

Perjalanan kali ini dimulai dari kota Bandung tercinta pada tanggal 10 Januari 2012 pukul 08.00 WIB. Perjalanan kali saya rasakan cukup berat, berbeda dengan perjalanan dinas sebelumnya, bukan karena tempat seminar berada di kota Bangkok, Thailand. Apalagi setelah mencium kening dan pipi anakku tercinta sambil memanjatkan do’a untuk kesehatan anakku tercinta, ada pancaran yang cukup mendalam dari tatapan anakku ini. Rupanya hal tersebut merupakan firasat seorang ayah terhadap anaknya. Benar saja sesampainya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, saya mendapat berita yang mengejutkan bahwa anakku tercinta demam tinggi hampir mencapai 39 derajat celcius (padahal pada saat pagi harinya terlihat sehat-sehat saja). Kontan saja, membuat perasaan saya menjadi tidak karuan. Tapi berkat peran istriku tercinta yang coba menenangkan dan meyakinkan bahwa anakku akan baik-baik saja. Dengan ucapan bismillah, pada pukul 16.25 saya masuk pesawat Air Asia menuju Bangkok dengan harapan perjalanan lancar dan saya selamat sampai tujuan serta kondisi anakku segera membaik.

Alhamdulillah tepat pukul 20.15 tiba di Bandara Suvarnabhumi Bangkok dengan selamat walaupun di perjalanan sedikit mengalami goncangan-goncangan kecil. Langsung saya coba menghubungi istri untuk menanyakan kondisi anak tercinta. Dan ternyata masih demam tinggi. Aduh... benar-benar konsentrasi semakin buyar. Saya hanya bisa berdo’a atas kesehatan anak tercinta. Ya Alloh semoga anakku cepat sembuh. Amien...

Proses pengecekan di Imigrasi Bandara Suvarnabhumi tidak terlalu lama hanya membutuhkan waktu sektar 10 menit. Akan tetapi yang menyita waktu cukup lama adalah menunggu datangnya bagasi. Dan benar saja waktu yang dibutuhkan hampir membutuhkan waktu 35 menit. Setelah bagasi saya peroleh, maka langsung saya cari kartu selular prabayar. Akhirnya saya putuskan untuk membeli kartu prabayar AIS (provider perusahaan telekomunikasi seluler yang bekerja sama dengan TELKOMSEL). Cukup dengan 200 Baht saya dapat membeli kartu prabayar tersebut dengan rincian 100 Baht untuk kartu perdanannya dan 100 Baht untuk pulsanya.

Bandara Suvarnabhumi memang cukup baik dari sisi display dan informasi yang diberikan bagi tamunya. Salah satu buktinya adalah pihak otorisasi pariwisata Thailand memberikan informasi mengenai peta dan tempat-tempat penting di Bangkok dan daerah lainnya secara cuma-cuma. Selain itu bandara ini termasuk salah satu bandara terbaik dan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Saking besarnya, bagi tamu yang memiliki budget terbatas disarankan menggunakan taxi meter di lantai paling bawah (bukan limousine di lantai atas dengan biaya sekitar 1000 – 1500 Baht sekali jalan). Taxi meter di lantai bawah bandara ini hampir serupa dengan taksi argo di Indonesia dengan kisaran biaya dari Bandara ke pusat kota Bangkok sekitar 350 – 500 Baht sekali jalan. Tapi tidak perlu khawatir, taxi meter yang dimaksud bukanlah taxi tua atau menggunakan mobil yang jelek melainkan menggunakan mobil Toyota New Altis (wow.. harga tersebut cukup sebanding dengan kondisi mobilnya). Masalah utama pengemudi taksi di Thailand adalah minimnya kemampuan bahasa Inggris mereka, sehingga peta dan kalkulator sangatlah membantu sebagai petunjuk bagi pengemudi taksi di Thailand. Alternatif alat transportasi lain dari Bandara Suvarnabhumi menuju pusat kota Bangkok  adalah layanan Citi Line/SRT. Apabila menggunakan layanan Citiline/SRT disarankan menuju station Phaya Thai dengan biaya 45 Baht. Hal ini dikarenakan dari station Phaya Thai kita bisa langsung menggunakan BTS (skytrain) menuju berbagai tempat di pusat kota Bangkok.

Alhamdulillah pihak kampus sangat mendukung, dan saya telah dipesankan hotel di Grand President Hotel di daerah Sukhumvit melalui Agoda.com. Berbekal peta yang saya dapatkan di Bandara Suvarnabhumi, dari station Phaya Thai saya ganti menggunakan BTS menuju station Nana dengan biaya 25 Baht. Sesampainya di station Nana saya pakai taxi meter. Rupanya masalah kembali muncul, supir taxi tidak tahu lokasi hotel tempat saya menginap. Masalah lainnya adalah supir taxi ini tidak mau menggunakan meteran karena dia tahu saya orang asing. Setelah berputar-putar kurang lebih selama 30 menit di tengah kemacetan kota Bangkok yang cukup parah, akhirnya saya sampai di Grand President Hotel dengan biaya 150 Baht. Pihak hotel cukup baik dalam menyambut tamunya, walaupun tetap saja kemampuan bahasa Inggris mereka jauh kalah dibandingkan dengan resepsionis hotel-hotel di Indonesia. Yang agak berbeda dengan hotel ini, mereka hanya menunjukkan lokasi kamar dan tidak berusaha membantu saya sampai ke kamar (tapi positifnya saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tipp). Saya langsung memberi kabar kepada istri sambil menanyakan kondisi kesehatan anak tercinta. Tidak terasa ternyata sudah pukul 23.05 dan saya langsung mandi dan sholat Maghrib & Isya (di-jama’), walaupun awalnya agak sedikit bingung mengenai arah kiblatnya. Tapi berkat bantuan operator, saya akhirnya dapat melaksanakan sholat dengan tumaninah, dan akhirnya bisa beristirahat walaupun perasaan ini tentunya belum tenang menunggu kabar anak tercinta di Bandung.

Alhamdulillah saya bisa beristirahat cukup dan bangun tepat pukul 04.55 pada keeskoan harinya (11 Januari 2012). Setelah selesai sholat subuh saya langsung  menelepon istri untuk menanyakan kondisi anak tercinta. Ternyata masih demam tinggi. Sedih sekali rasanya tidak dapat mendampingi anak tercinta disaat kondisinya sedang demam tinggi. Alhamdulillah istri cukup tenang, sabar dan mandiri dalam mengatasi kondisi tersebut. Anakku akan diperiksa darah hari ini (semoga hasilnya bagus Ya Alloh). Setelah mandi saya langsung menuju restaurant untuk sarapan. Masalah kembali muncul, karena ternyata hampir sebagian besar makanan mengandung pork (yang diharamkan oleh Islam). Akhirnya saya sarapan roti yang cukup netral saja. Setelah selesai sarapan saya dapat kabar bahwa kondisi anak saya kondisinya cukup normal, walaupun menurut dokter besok harus dicek darah lagi. Alhamdulillah ya Alloh, semoga kondisi anakku terus membaik.

Pagi itu ada hal yang cukup mengejutkan, ternyata jarak antara Grand President Hotel menuju station Nana hanya berjarak 300 meter atau cukup dengan 5 menit berjalan kaki. Rupa-rupanya tadi malam saya sudah kena tipu supir taxi bangkok. Huhhh... gara-gara mereka tidak bisa bahasa Inggris dan tidak bisa bahasa Thai. Harusnya bisa gratis dan lebih sehat malah saya harus mengeluarkan biaya 150 Baht. Tapi sudahlah itu pengalaman yang cukup berharga. Setelah selesai sarapan saya lalu mencoba menghubungi pihak panitia yang bernama Dr. Nipat Jongsawat. Dr. Nipat cukup membantu mengarahkan saya menuju ke lokasi seminar. Lokasi seminar ini ada di wilayah barat daya Bangkok (atau menurut teman saya yang sedang lanjut S3 di King Mongkut University disebut dengan istilah “Bangkok coret”) tepat di Phetkasem Road. Dr. Nipat menyarankan saya untuk menggunakan BTS dari station Nana ke arah Mo Chit, lalu di station Siam saya ganti menggunakan BTS menuju Wong Wian Yai dengan biaya 40 Baht (sebagai informasi bahwa tarif minimum BTS adalah 15 Baht dan tarif maksimumnya adalah 40 Baht tergantung jarak). Sesampainya di station Wong Wian Yai saya langsung mencari taksi menuju tempat seminar. Taksinya cukup bagus dan bersih (hampir sebagian besar menggunakan TOYOTA New Altis). Masalah utamanya tetap saja yaitu supir taksi tidak bisa berbahasa Inggris, untung saja saya membawa peta Bangkok, dan saya tunjukkan lokasinya, barulah supir taksi itu mengerti. Biaya yang saya harus keluarkan menggunakan taksi memang jauh lebih mahal daripada BTS yaitu dari station Wong Wian Yai sampai dengan tempat seminar sebesar 70 Baht. Dan supir taksi di Bangkok (kecuali di Bandara dan dekat hotel) cukup fair dan jujur. Saya memberikan 100 Baht, dia langsung memberi kembalian 30 Baht sesuai dengan nilai yang tertera di meteran taksinya.

Sesampainya di Siam University, saya mencoba menanyakan kepada petugas keamanan kampus. Dan lagi-lagi petugas keamanan kampus ini tidak bisa berbahasa Inggris. Untungnya dia mengantar saya ke kantor public relations kampus, dan saya dibantu oleh seorang ibu di kantor tersebut menuju gedung yang dituju. Hal yang cukup menarik di Thailand adalah bahwa hampir sebagian besar siswa dari mulai jenjang SD sampai dengan perguruan tinggi menggunakan baju seragam dengan model dan warna yang sama. Yang membedakan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya adalah pada lencananya saja. Seperti patut dipertimbangkan untuk diimplementasikan juga di Indonesia sebagai upaya untuk menekan angka kecemburuan sosial yang tinggi khususnya dikalangan kampus.

Pihak panitia menyambut dengan cukup baik dan menjelaskan tentang mekanisme pelaksanaan seminar yang akan dimulai esok harinya (12 Januari 2012). Pihak panitia menyarankan kami untuk mengunjungi salah satu objek wisata yang cukup terkenal di Bangkok yaitu Chao Phraya River. Dari Siam University kami menggunakan taksi dengan biaya sekitar 65 – 70 Baht sampai ke station Wong Wian Yai, lalu menggunakan BTS sampai dengan station Saphan Thaksin dengan biaya 20 Baht. Kita cukup berjalan kaki kurang lebih 5 menit sudah sampai di Sathor Pier (pelabuhan ferry mini khusus untuk rute Chao Phraya River. Ada 2 (dua) pilihan tiket yaitu 30 Baht untuk satu kali perjalanan pulang pergi dan 120 Baht untuk perjalanan full day dari pagi sampai dengan sore (sampai kita cape dan bosen, hehehe...). Banyak tempat menarik yang bisa kita kunjungi salah satunya adalah Wat Arun dan Grand Palace. Khusus di daerah Grand Palace kita harus berhati-hati apabila ditawari jasa Tuk-Tuk (bajaj versi Thailand). Harga maksimal tuk-tuk untuk mengantar kita menuju 3 tempat wisata sekitar Grand Palace adalah 30 Baht. Jangan sampai kita mengeluarkan uang lebih dari itu. Dan pengemudi tuk-tuk harus mau menunggu kita selama kita mengunjungi 3 tempat wisata tersebut. Barulah  kita bayar pada saat kita sudah kembali ke lokasi Grand Palace kembali.

Setelah puas mengelilingi Chao Phraya River maka kita disarankan oleh panitia untuk mencoba mengunjungi MBK (pusat perbelanjaan terbesar di Bangkok). Dari station Saphan Taksin dengan menggunakan BTS menuju station National Stadium dengan biaya sebesar 25 Baht kita sudah sampai di MBK. Tips berbelanja di MBK adalah anda harus “TEGA” dalam menawar harga, karena menurut pengalaman saya, Alhamdulillah saya membeli tas kulit yang konon katanya asli dengan harga 680 Baht dari harga awal 2500 Baht, hehehe... Memang MBK adalah surga belanja segala barang kebutuhan di kota Bangkok ini (dan mungkin lebih cocok untuk kaum hawa). Sedangkan untuk harga T-Shirt rata-rata antara 99 – 199 Baht per pcs.

Setelah cukup puas berkeliling di MBK, pihak panitia menyarankan untuk mencoba mengunjungi Siam Paragon dan Siam Discovery. Dari MBK kita bisa berjalan kaki selama 10 menit melalui terowongan yang menghubungkan MBK dengan Siam Paragon dan Siam Discovery atau menggunakan BTS dari station National Stadium ke station Siam dengan biaya 20 Baht. Siam Paragon adalah pusat perbelanjaan (mall) yang cukup terkenal di Bangkok.  Selain kita bisa membeli barang-barang branded, ada 1 tempat yang cukup sayang untuk dilewati yaitu Ocean World (terletak di lantai basement). Sedangkan di Siam Discovery ada 1 tempat yang cukup menarik yaitu Madame Thousands (tempat patung-patung lilin para artis dan tokoh terkenal dunia). Untuk masuk ke Madame Thousand kita harus mengeluarkan biaya sebesar 800 Baht per orang. Akhirnya tiba juga waktu sholat Maghrib (walaupun sangat sulit menemukan Masjid di Bangkok maupun mendengar suara adzan di Bangkok), saya memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat dan persiapan presentasi esok harinya.

Pada tanggal 12 Januari 2012 saya kembali ke Siam University untuk menghadiri seminar. Keynote speaker pada seminar ini adalah Prof. Dr. James G. Williams (profesor emeritus dari University of Pittsburg, USA). Peserta seminar berasal dari 13 negara yaitu Thailand, Indonesia, Malaysia, Iraq, Iran, Finlandia, USA, Korea Selatan, Mauritius, India, Mesir, Romania dan Kuwait. Saya bertemu dengan teman yang cukup baik dan aktif dalam berkomunikasi yaitu Dr. Tan (Malaysia), Neveen (Mesir), Haidar (Iraq) dan Hendrik (Malaysia). Alhamdulillah sesi presentasi saya lalui dengan lancar dan mendapatkan respon yang cukup baik dari para peserta seminar. Hari itu setelah selesai seminar saya langsung kembali ke hotel.

Hari ini (13 Januari 2012) adalah hari terakhir saya di Bangkok. Setelah sarapan pagi saya langsung check out dan pihak hotel memberikan fasilitas Bag Drop (free) untuk memudahkan tamu apabila masih memiliki aktivitas setelah check out dan tidak mau direpotkan dengan barang bawaannya. Saya kembali ke Siam University untuk mengikuti seminar hari terakhir. Seperti seminar lainnya bahwa hari ke-2 antusias peserta seminar yang sudah mendapat giliran presentasi pada hari pertama berkurang signifikan. Akhirnya seminar ditutup pada pukul 16.00 dan semoga bisa berpartisipasi kembali pada seminar ini di November/Desember 2012. Amien.

Saya langsung kembali ke hotel untuk mengambil semua barang bawaan dan langsung menggunakan BTS dari station Nana menuju station Phaya Thai dengan biaya 25 Baht, lalu saya ganti dengan Suvarnabhumi Citiline (SRT) dengan biaya 45 Baht. Alhamdulillah saya tiba di Bandara Suvarnabhumi pada pukul 18.00 dan bertepatan dengan waktu sholat maghrib. Subhanalloh, mushola di Bandara Suvarnabhumi cukup besar dan bersih. Di mushola tersebut saya bertemu dengan rekan-rekan dari Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Perancis dan Ghana untuk sholat maghrib berjama’ah. Indah sekali momen tersebut. Alhamdulillah...

Setelah selesai shalat maghrib saya langsung check in dan melalui proses check pasport di Imigrasi dengan waktu yang agak lama (dikarenakan banyak petugas imigrasi yang sedang istirahat). Lalu saya harus melewati pos pengecekan barang. Waw... proses pengecekan barangnya sangat ketat (sampai saya harus melepas SABUK, JAM TANGAN, CINCIN, DOMPET, SEPATU, CINCIN, GELANG dan semua barang dari logam. Hehehe... Sepertinya patut dicontoh oleh Bandara Soekarno Hatta dan bandara lainnya di Indonesia untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Saya take off pada pukul 20.55 dan alhamdulillah tiba di Jakarta pukul 00.30 WIB. Dan saya tiba kembali di Bandung tercinta pada pukul 07.00 (setelah berjuang menggunakan taksi Silver Bird dari Bandara ke Pool Cipaganti Arteri Pondok Indah, dikarenakan sudah tidak ada lagi travel khusus Bandara menuju Bandung).
Finally, saya bisa berkumpul kembali dengan keluarga kecil yang tercinta. Nuhun pisan ya Alloh...

Semoga cerita singkat dari perjalanan ini bermanfaat untuk rekan-rekan semua. Wassalam