Senin, 16 Januari 2012

Perjalanan 4 Hari di Bangkok

Perjalanan kali ini dimulai dari kota Bandung tercinta pada tanggal 10 Januari 2012 pukul 08.00 WIB. Perjalanan kali saya rasakan cukup berat, berbeda dengan perjalanan dinas sebelumnya, bukan karena tempat seminar berada di kota Bangkok, Thailand. Apalagi setelah mencium kening dan pipi anakku tercinta sambil memanjatkan do’a untuk kesehatan anakku tercinta, ada pancaran yang cukup mendalam dari tatapan anakku ini. Rupanya hal tersebut merupakan firasat seorang ayah terhadap anaknya. Benar saja sesampainya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, saya mendapat berita yang mengejutkan bahwa anakku tercinta demam tinggi hampir mencapai 39 derajat celcius (padahal pada saat pagi harinya terlihat sehat-sehat saja). Kontan saja, membuat perasaan saya menjadi tidak karuan. Tapi berkat peran istriku tercinta yang coba menenangkan dan meyakinkan bahwa anakku akan baik-baik saja. Dengan ucapan bismillah, pada pukul 16.25 saya masuk pesawat Air Asia menuju Bangkok dengan harapan perjalanan lancar dan saya selamat sampai tujuan serta kondisi anakku segera membaik.

Alhamdulillah tepat pukul 20.15 tiba di Bandara Suvarnabhumi Bangkok dengan selamat walaupun di perjalanan sedikit mengalami goncangan-goncangan kecil. Langsung saya coba menghubungi istri untuk menanyakan kondisi anak tercinta. Dan ternyata masih demam tinggi. Aduh... benar-benar konsentrasi semakin buyar. Saya hanya bisa berdo’a atas kesehatan anak tercinta. Ya Alloh semoga anakku cepat sembuh. Amien...

Proses pengecekan di Imigrasi Bandara Suvarnabhumi tidak terlalu lama hanya membutuhkan waktu sektar 10 menit. Akan tetapi yang menyita waktu cukup lama adalah menunggu datangnya bagasi. Dan benar saja waktu yang dibutuhkan hampir membutuhkan waktu 35 menit. Setelah bagasi saya peroleh, maka langsung saya cari kartu selular prabayar. Akhirnya saya putuskan untuk membeli kartu prabayar AIS (provider perusahaan telekomunikasi seluler yang bekerja sama dengan TELKOMSEL). Cukup dengan 200 Baht saya dapat membeli kartu prabayar tersebut dengan rincian 100 Baht untuk kartu perdanannya dan 100 Baht untuk pulsanya.

Bandara Suvarnabhumi memang cukup baik dari sisi display dan informasi yang diberikan bagi tamunya. Salah satu buktinya adalah pihak otorisasi pariwisata Thailand memberikan informasi mengenai peta dan tempat-tempat penting di Bangkok dan daerah lainnya secara cuma-cuma. Selain itu bandara ini termasuk salah satu bandara terbaik dan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Saking besarnya, bagi tamu yang memiliki budget terbatas disarankan menggunakan taxi meter di lantai paling bawah (bukan limousine di lantai atas dengan biaya sekitar 1000 – 1500 Baht sekali jalan). Taxi meter di lantai bawah bandara ini hampir serupa dengan taksi argo di Indonesia dengan kisaran biaya dari Bandara ke pusat kota Bangkok sekitar 350 – 500 Baht sekali jalan. Tapi tidak perlu khawatir, taxi meter yang dimaksud bukanlah taxi tua atau menggunakan mobil yang jelek melainkan menggunakan mobil Toyota New Altis (wow.. harga tersebut cukup sebanding dengan kondisi mobilnya). Masalah utama pengemudi taksi di Thailand adalah minimnya kemampuan bahasa Inggris mereka, sehingga peta dan kalkulator sangatlah membantu sebagai petunjuk bagi pengemudi taksi di Thailand. Alternatif alat transportasi lain dari Bandara Suvarnabhumi menuju pusat kota Bangkok  adalah layanan Citi Line/SRT. Apabila menggunakan layanan Citiline/SRT disarankan menuju station Phaya Thai dengan biaya 45 Baht. Hal ini dikarenakan dari station Phaya Thai kita bisa langsung menggunakan BTS (skytrain) menuju berbagai tempat di pusat kota Bangkok.

Alhamdulillah pihak kampus sangat mendukung, dan saya telah dipesankan hotel di Grand President Hotel di daerah Sukhumvit melalui Agoda.com. Berbekal peta yang saya dapatkan di Bandara Suvarnabhumi, dari station Phaya Thai saya ganti menggunakan BTS menuju station Nana dengan biaya 25 Baht. Sesampainya di station Nana saya pakai taxi meter. Rupanya masalah kembali muncul, supir taxi tidak tahu lokasi hotel tempat saya menginap. Masalah lainnya adalah supir taxi ini tidak mau menggunakan meteran karena dia tahu saya orang asing. Setelah berputar-putar kurang lebih selama 30 menit di tengah kemacetan kota Bangkok yang cukup parah, akhirnya saya sampai di Grand President Hotel dengan biaya 150 Baht. Pihak hotel cukup baik dalam menyambut tamunya, walaupun tetap saja kemampuan bahasa Inggris mereka jauh kalah dibandingkan dengan resepsionis hotel-hotel di Indonesia. Yang agak berbeda dengan hotel ini, mereka hanya menunjukkan lokasi kamar dan tidak berusaha membantu saya sampai ke kamar (tapi positifnya saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tipp). Saya langsung memberi kabar kepada istri sambil menanyakan kondisi kesehatan anak tercinta. Tidak terasa ternyata sudah pukul 23.05 dan saya langsung mandi dan sholat Maghrib & Isya (di-jama’), walaupun awalnya agak sedikit bingung mengenai arah kiblatnya. Tapi berkat bantuan operator, saya akhirnya dapat melaksanakan sholat dengan tumaninah, dan akhirnya bisa beristirahat walaupun perasaan ini tentunya belum tenang menunggu kabar anak tercinta di Bandung.

Alhamdulillah saya bisa beristirahat cukup dan bangun tepat pukul 04.55 pada keeskoan harinya (11 Januari 2012). Setelah selesai sholat subuh saya langsung  menelepon istri untuk menanyakan kondisi anak tercinta. Ternyata masih demam tinggi. Sedih sekali rasanya tidak dapat mendampingi anak tercinta disaat kondisinya sedang demam tinggi. Alhamdulillah istri cukup tenang, sabar dan mandiri dalam mengatasi kondisi tersebut. Anakku akan diperiksa darah hari ini (semoga hasilnya bagus Ya Alloh). Setelah mandi saya langsung menuju restaurant untuk sarapan. Masalah kembali muncul, karena ternyata hampir sebagian besar makanan mengandung pork (yang diharamkan oleh Islam). Akhirnya saya sarapan roti yang cukup netral saja. Setelah selesai sarapan saya dapat kabar bahwa kondisi anak saya kondisinya cukup normal, walaupun menurut dokter besok harus dicek darah lagi. Alhamdulillah ya Alloh, semoga kondisi anakku terus membaik.

Pagi itu ada hal yang cukup mengejutkan, ternyata jarak antara Grand President Hotel menuju station Nana hanya berjarak 300 meter atau cukup dengan 5 menit berjalan kaki. Rupa-rupanya tadi malam saya sudah kena tipu supir taxi bangkok. Huhhh... gara-gara mereka tidak bisa bahasa Inggris dan tidak bisa bahasa Thai. Harusnya bisa gratis dan lebih sehat malah saya harus mengeluarkan biaya 150 Baht. Tapi sudahlah itu pengalaman yang cukup berharga. Setelah selesai sarapan saya lalu mencoba menghubungi pihak panitia yang bernama Dr. Nipat Jongsawat. Dr. Nipat cukup membantu mengarahkan saya menuju ke lokasi seminar. Lokasi seminar ini ada di wilayah barat daya Bangkok (atau menurut teman saya yang sedang lanjut S3 di King Mongkut University disebut dengan istilah “Bangkok coret”) tepat di Phetkasem Road. Dr. Nipat menyarankan saya untuk menggunakan BTS dari station Nana ke arah Mo Chit, lalu di station Siam saya ganti menggunakan BTS menuju Wong Wian Yai dengan biaya 40 Baht (sebagai informasi bahwa tarif minimum BTS adalah 15 Baht dan tarif maksimumnya adalah 40 Baht tergantung jarak). Sesampainya di station Wong Wian Yai saya langsung mencari taksi menuju tempat seminar. Taksinya cukup bagus dan bersih (hampir sebagian besar menggunakan TOYOTA New Altis). Masalah utamanya tetap saja yaitu supir taksi tidak bisa berbahasa Inggris, untung saja saya membawa peta Bangkok, dan saya tunjukkan lokasinya, barulah supir taksi itu mengerti. Biaya yang saya harus keluarkan menggunakan taksi memang jauh lebih mahal daripada BTS yaitu dari station Wong Wian Yai sampai dengan tempat seminar sebesar 70 Baht. Dan supir taksi di Bangkok (kecuali di Bandara dan dekat hotel) cukup fair dan jujur. Saya memberikan 100 Baht, dia langsung memberi kembalian 30 Baht sesuai dengan nilai yang tertera di meteran taksinya.

Sesampainya di Siam University, saya mencoba menanyakan kepada petugas keamanan kampus. Dan lagi-lagi petugas keamanan kampus ini tidak bisa berbahasa Inggris. Untungnya dia mengantar saya ke kantor public relations kampus, dan saya dibantu oleh seorang ibu di kantor tersebut menuju gedung yang dituju. Hal yang cukup menarik di Thailand adalah bahwa hampir sebagian besar siswa dari mulai jenjang SD sampai dengan perguruan tinggi menggunakan baju seragam dengan model dan warna yang sama. Yang membedakan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya adalah pada lencananya saja. Seperti patut dipertimbangkan untuk diimplementasikan juga di Indonesia sebagai upaya untuk menekan angka kecemburuan sosial yang tinggi khususnya dikalangan kampus.

Pihak panitia menyambut dengan cukup baik dan menjelaskan tentang mekanisme pelaksanaan seminar yang akan dimulai esok harinya (12 Januari 2012). Pihak panitia menyarankan kami untuk mengunjungi salah satu objek wisata yang cukup terkenal di Bangkok yaitu Chao Phraya River. Dari Siam University kami menggunakan taksi dengan biaya sekitar 65 – 70 Baht sampai ke station Wong Wian Yai, lalu menggunakan BTS sampai dengan station Saphan Thaksin dengan biaya 20 Baht. Kita cukup berjalan kaki kurang lebih 5 menit sudah sampai di Sathor Pier (pelabuhan ferry mini khusus untuk rute Chao Phraya River. Ada 2 (dua) pilihan tiket yaitu 30 Baht untuk satu kali perjalanan pulang pergi dan 120 Baht untuk perjalanan full day dari pagi sampai dengan sore (sampai kita cape dan bosen, hehehe...). Banyak tempat menarik yang bisa kita kunjungi salah satunya adalah Wat Arun dan Grand Palace. Khusus di daerah Grand Palace kita harus berhati-hati apabila ditawari jasa Tuk-Tuk (bajaj versi Thailand). Harga maksimal tuk-tuk untuk mengantar kita menuju 3 tempat wisata sekitar Grand Palace adalah 30 Baht. Jangan sampai kita mengeluarkan uang lebih dari itu. Dan pengemudi tuk-tuk harus mau menunggu kita selama kita mengunjungi 3 tempat wisata tersebut. Barulah  kita bayar pada saat kita sudah kembali ke lokasi Grand Palace kembali.

Setelah puas mengelilingi Chao Phraya River maka kita disarankan oleh panitia untuk mencoba mengunjungi MBK (pusat perbelanjaan terbesar di Bangkok). Dari station Saphan Taksin dengan menggunakan BTS menuju station National Stadium dengan biaya sebesar 25 Baht kita sudah sampai di MBK. Tips berbelanja di MBK adalah anda harus “TEGA” dalam menawar harga, karena menurut pengalaman saya, Alhamdulillah saya membeli tas kulit yang konon katanya asli dengan harga 680 Baht dari harga awal 2500 Baht, hehehe... Memang MBK adalah surga belanja segala barang kebutuhan di kota Bangkok ini (dan mungkin lebih cocok untuk kaum hawa). Sedangkan untuk harga T-Shirt rata-rata antara 99 – 199 Baht per pcs.

Setelah cukup puas berkeliling di MBK, pihak panitia menyarankan untuk mencoba mengunjungi Siam Paragon dan Siam Discovery. Dari MBK kita bisa berjalan kaki selama 10 menit melalui terowongan yang menghubungkan MBK dengan Siam Paragon dan Siam Discovery atau menggunakan BTS dari station National Stadium ke station Siam dengan biaya 20 Baht. Siam Paragon adalah pusat perbelanjaan (mall) yang cukup terkenal di Bangkok.  Selain kita bisa membeli barang-barang branded, ada 1 tempat yang cukup sayang untuk dilewati yaitu Ocean World (terletak di lantai basement). Sedangkan di Siam Discovery ada 1 tempat yang cukup menarik yaitu Madame Thousands (tempat patung-patung lilin para artis dan tokoh terkenal dunia). Untuk masuk ke Madame Thousand kita harus mengeluarkan biaya sebesar 800 Baht per orang. Akhirnya tiba juga waktu sholat Maghrib (walaupun sangat sulit menemukan Masjid di Bangkok maupun mendengar suara adzan di Bangkok), saya memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat dan persiapan presentasi esok harinya.

Pada tanggal 12 Januari 2012 saya kembali ke Siam University untuk menghadiri seminar. Keynote speaker pada seminar ini adalah Prof. Dr. James G. Williams (profesor emeritus dari University of Pittsburg, USA). Peserta seminar berasal dari 13 negara yaitu Thailand, Indonesia, Malaysia, Iraq, Iran, Finlandia, USA, Korea Selatan, Mauritius, India, Mesir, Romania dan Kuwait. Saya bertemu dengan teman yang cukup baik dan aktif dalam berkomunikasi yaitu Dr. Tan (Malaysia), Neveen (Mesir), Haidar (Iraq) dan Hendrik (Malaysia). Alhamdulillah sesi presentasi saya lalui dengan lancar dan mendapatkan respon yang cukup baik dari para peserta seminar. Hari itu setelah selesai seminar saya langsung kembali ke hotel.

Hari ini (13 Januari 2012) adalah hari terakhir saya di Bangkok. Setelah sarapan pagi saya langsung check out dan pihak hotel memberikan fasilitas Bag Drop (free) untuk memudahkan tamu apabila masih memiliki aktivitas setelah check out dan tidak mau direpotkan dengan barang bawaannya. Saya kembali ke Siam University untuk mengikuti seminar hari terakhir. Seperti seminar lainnya bahwa hari ke-2 antusias peserta seminar yang sudah mendapat giliran presentasi pada hari pertama berkurang signifikan. Akhirnya seminar ditutup pada pukul 16.00 dan semoga bisa berpartisipasi kembali pada seminar ini di November/Desember 2012. Amien.

Saya langsung kembali ke hotel untuk mengambil semua barang bawaan dan langsung menggunakan BTS dari station Nana menuju station Phaya Thai dengan biaya 25 Baht, lalu saya ganti dengan Suvarnabhumi Citiline (SRT) dengan biaya 45 Baht. Alhamdulillah saya tiba di Bandara Suvarnabhumi pada pukul 18.00 dan bertepatan dengan waktu sholat maghrib. Subhanalloh, mushola di Bandara Suvarnabhumi cukup besar dan bersih. Di mushola tersebut saya bertemu dengan rekan-rekan dari Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Perancis dan Ghana untuk sholat maghrib berjama’ah. Indah sekali momen tersebut. Alhamdulillah...

Setelah selesai shalat maghrib saya langsung check in dan melalui proses check pasport di Imigrasi dengan waktu yang agak lama (dikarenakan banyak petugas imigrasi yang sedang istirahat). Lalu saya harus melewati pos pengecekan barang. Waw... proses pengecekan barangnya sangat ketat (sampai saya harus melepas SABUK, JAM TANGAN, CINCIN, DOMPET, SEPATU, CINCIN, GELANG dan semua barang dari logam. Hehehe... Sepertinya patut dicontoh oleh Bandara Soekarno Hatta dan bandara lainnya di Indonesia untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Saya take off pada pukul 20.55 dan alhamdulillah tiba di Jakarta pukul 00.30 WIB. Dan saya tiba kembali di Bandung tercinta pada pukul 07.00 (setelah berjuang menggunakan taksi Silver Bird dari Bandara ke Pool Cipaganti Arteri Pondok Indah, dikarenakan sudah tidak ada lagi travel khusus Bandara menuju Bandung).
Finally, saya bisa berkumpul kembali dengan keluarga kecil yang tercinta. Nuhun pisan ya Alloh...

Semoga cerita singkat dari perjalanan ini bermanfaat untuk rekan-rekan semua. Wassalam

Senin, 24 Oktober 2011

Bidan Desa Harus Melek Teknologi Informasi (IT)

sumber: mediabidan.com
Perkembangan teknologi informasi (IT) yang sangat pesat di Indonesia saat ini, menjadikannya bukan lagi sebagai sekadar "keinginan" melainkan sudah kepada tatanan "kebutuhan" semua umat manusia di muka bumi ini, tidak terkecuali masyarakat di Indonesia. Dukungan positif dari pihak pemerintah maupun swasta dalam memacu akselerasi teknologi informasi (IT) di Indonesia sudah menunjukkan hasilnya dalam 2 (dua) tahun belakangan ini. Salah satu buktinya adalah bahwa hampir sebagian besar masyarakat Indonesia tidak dapat terpisahkan oleh penggunakan teknologi informasi (IT) dalam setiap aktivitas hariannya.

Dunia kesehatan pun merasakan hal yang kurang lebih sama. Salah satu pakar teknologi informasi di bidang kesehatan dari UGM Yogyakarta yaitu bapak Anis Fuad, DEA. , pada saat seminar HL-7 yang diselenggarakan oleh FKUI beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa perkembangan teknologi informasi (IT) di bidang kesehatan sudah bukan monopoli rumah sakit besar maupun instansi pemerintahan saja, melainkan sudah sampai kepada tatanan Puskesmas di daerah-daerah terpencil (seperti halnya di Kab. Sleman, Yogyakarta).

Menyadari potensi yang luar biasa terhadap perkembangan teknologi informasi (IT) di dunia kesehatan khususnya di wilayah pedesaan, maka ada salah satu faktor kunci dalam mewujudkan keberhasilan Pemerintah Indonesia menuju Indonesia yang benar-benar SEHAT adalah peranan aktif dari BIDAN khususnya bidan desa.

Bidan desa memegang peranan penting dalam usaha menurunkan angka kematian bayi, angka kematian balita maupun angka kematian ibu hamil di Indonesia. Selain itu juga bidan desa adalah ujung tombak Kementrian Kesehatan RI dalam mensosialisasikan program bersalin yang sehat, imunisasi dan juga program Keluarga Berencana (KB).

Akan tetapi untuk mewujudkan hal-hal tersebut, tidak sedikit bidan desa yang mengalami kendala khususnya yang berkaitan dengan infrastruktur dan fasilitas pendukungnya. Selain itu juga minimnya informasi yang berkaitan dengan lokasi Rumah Sakit terdekat sebagai tempat rujukan adalah salah satu masalah klasik yang sampai saat ini masih saja terjadi.

Masalah-masalah yang berkaitan dengan bidan desa tersebut sebenarnya bisa diselesaikan dengan penggunaan teknologi informasi (IT) yang relatif murah. Hal ini dikarenakan dukungan dari para prinsipal telepon selular lokal yang berhasil mengeluarkan produk-produk yang cukup mendukung penggunaan internet dengan harga yang relatif murah. Penggunaan telepon selular yang memiliki fasilitas internet sebenarnya merupakan suatu peluang bagi Pemerintah dalam hal ini Kementrian Kesehatan RI dalam mewujudkan sistem informasi kesehatan (e-health) yang terintegrasi. Artinya, dari sudut pandang pemerintah tinggal bekerja sama dengan Kementrian KOMINFO dan beberapa pihak swasta untuk investasi infrastruktur pendukung layanan informasi kesehatan terintegrasi ini, tanpa harus menyediakan pula perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) kepada para pelaku di lapangan khususnya Bidan Desa.

Langkah awal yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan program penjualan telepon selular internet murah kepada para bidan desa di seluruh wilayah Indonesia (dengan berbagai mekanisme baik cash maupun kredit tanpa bunga) lalu dilanjutkan dengan sosialisasi penggunaan internet yang efektif bagi bidan desa khususnya dalam mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan untuk mendukung kinerjanya di daerah pedesaan. Artinya sudah saatnya Bidan Desa di Indonesia 100% Melek Teknologi Informasi (IT).

Walaupun tulisan ini masih bersifat wacana dan usulan semata, semoga beberapa pihak yang berkepentingan secara langsung yaitu Pemerintah dapat tergugah untuk secepatnya mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia yaitu INDONESIA SEHAT 100%. Amien...

Minggu, 16 Oktober 2011

Sistem Informasi Rujukan yang Terintegrasi

Sumber: http://msnbc.msn.com
Permasalahan utama sektor kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari faktor infrastruktur layanan kesehatan yang belum memadai dan merata di seluruh wilayah negara tercinta ini. Masih terpusatnya sarana layanan kesehatan yang memadai hanya di kota-kota besar saja merupakan salah satu penyumbang masih tingginya angka kematian bayi, balita maupun ibu. Awal dari permasalahan tersebut adalah terlambatnya proses penanganan khususnya di daerah-daerah terpencil. Pada saat pasien datang ke pusat layanan kesehatan daerah, dan ternyata daerah tersebut tidak memiliki peralatan yang memadai, maka mau tidak mau pasien tersebut haruslah dirujuk ke rumah sakit yang lebih memadai. Akan tetapi permasalahan tidaklah selesai sampai dengan fase tersebut, pada saat tiba di rumah sakit rujukan ternyata masalah lain muncul, yaitu terbatasnya kapasitas tempat untuk menangani pasien tersebut. Sehingga pasien yang bersangkutan harus kembali dirujuk di rumah sakit lain yang belum bisa dipastikan apakah rumah sakit tersebut mampu menangani atau tidak.

Memang selama ini bukan berarti proses merujuk pasien dari satu tempat ke tempat yang lain tidak melibatkan teknologi informasi dan komunikasi, walaupun masih menggunakan media telepon. Penggunaan media telepon ini baru sebatas kepada "information exchange" khususnya berhubungan dengan kapasitas dan kemampuan pusat layanan kesehatan dalam menangani pasien rujukan tersebut. Masalah yang timbul adalah tidak terjaminnya akurasi informasi yang diberikan.

Solusi sederhana yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah adanya suatu layanan informasi (khususnya berkenaan dengan kapasitas dan fasilitas yang dimiliki) dari semua pusat layanan kesehatan. Hal ini akan dapat mempercepat proses penentuan tempat mana yang harus dituju oleh pasien yang akan dirujuk. Sehingga secara tidak langsung dapat menyelamatkan nyawa dari pasien tersebut dan juga apabila kita lihat dari waktu proses merujuk akan timbul efisiensi waktu yang berdampak langsung pada efisiensi biaya, sehingga pasien tidak dibebankan biaya proses rujukan yang tinggi selain biaya perawatan di tempat rujukan nantinya.

Sumber:  
Firdaus, O.M., & Zakiyyah, E.R., Model Konseptual E-Health Untuk Departemen Ilmu Kesehatan Anak di Indonesia, Seminar Teknik Informatika & Sistem Informasi (SETISI) 2011, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, 24 September 2011.

Rabu, 25 Mei 2011

Mari Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Tulisan ini terinspirasi dari hasil diskusi bersama salah seorang dosen pembimbing saya di Teknik Industri ITB pada hari Rabu, 25 Mei 2011 sekitar pukul 13.25 WIB.

Beliau mengutarakan pendapatnya tentang bagaimana caranya agar seorang bidan dengan cepat dan tepat membuat suatu keputusan tentang kondisi pasien (dalam hal ini ibu yang akan melahirkan), tanpa harus mengorbankan kondisi si ibu dan si bayi bahkan harus sampai mengorbankan nyawa keduanya.

Amazing!!! Itulah kata yang bisa saya sampaikan untuk ide yang cukup luar biasa tersebut. Mengapa demikian??? Karena ide tersebut muncul justru berasal dari seorang Doktor Teknik Industri dengan fokus di Sistem Manufaktur, bukanlah berasal dari seorang tenaga kesehatan baik dokter, bidan maupun perawat.

Hal inilah yang membuat saya menjadi semakin terpacu untuk dapat menyelesaikan penelitian doktor ini dengan target memberikan suatu nilai tambah bagi dunia kesehatan khususnya yang berkaitan dengan proses persalinan.

Masalah persalinan, ibu hamil, bayi maupun hal-hal yang berhubungan dengan itu semua, bukanlah sesuatu yang asing di telinga saya. Hal tersebut dikarenakan saya lahir dan besar dari seorang ibu yang berprofesi bidan. Alhamdulillah sejak tahun 1970 sampai dengan sekarang beliau tetap sehat dan telah membantu menolong persalinan ribuan atau bahkan ratusan ribu kali. Semoga amal baik ibuku dibalas oleh Alloh SWT. Amien...

Kembali kepada masalah awal, ada beberapa hal yang sebenarnya bisa dilakukan oleh para bidan untuk dapat aktif dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi, yaitu :
1. Mulai sadar akan pentingnya medical record si pasien (sebaiknya elektronik)
2. Selalu update pengetahuan yang berhubungan dengan proses persalinan
3. Mulai membangun network dengan rumah sakit terdekat sebagai tempat rujukan
4. Bekerjasama dengan dokter obgyn dalam pelayanan USG (pendeteksi dini)
5. Tidak membiasakan "trial and error" berkaitan dengan proses persalinan
6. Mematuhi SOP (standard operating procedure) yang dikeluarkan oleh IBI
7. Serta sadar bahwa nyawa yang akan ditolong adalah 2 (ibu & bayi)

Saya berkeyakinan, apabila para bidan di Indonesia mulai menerapkan ke-7 hal tersebut di atas, insya Alloh dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi, dan yang lebih penting lagi kualitas kesehatan ibu pasca melahirkan akan lebih meningkat sehingga si ibu dapat memberikan ASI eksklusif kepada anaknya dengan lebih berkualitas dan tentunya masa depan anak Indonesia menjadi lebih cerah.

Amien... semoga....

Terima kasih banyak kepada Bapak TMA atas inspirasi yang sangat bermanfaat untuk kelangsung penelitian doktor saya dan yang lebih penting lagi untuk kualitas kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya.

by: Oktri Mohammad Firdaus (@LSIK TI-ITB, 25 Mei 2011)

Jumat, 20 Mei 2011

Smart Card di RS Fatmawati Jakarta (awal yang baik untuk eHealth Indonesia)

Kata yang membanggakan ini terlontar saat Chairul Radjab Nasution, Dirut RSUP Fatmawati menjelaskan perubahan besar yang tengah terjadi di rumah sakit pelat merah ini, salah satunya di pelayanan rawat jalan Griya Husada. Sebuah pelayanan eksekutif.
Chairul mengatakan, kendala yang terjadi hampir disemua rumah sakit selama ini adalah data pasien. “ seperti halnya RSUPF, bayangkan setiap hari tak kurang dari 350 orang pasien yang berkunjung. Belum lagi untuk pasien lama yang berkunjung kembali, tak akan mudah menemukan data medical record pasien tersebut,” ujar nya.
Bahkan dokter yang menangani si pasien pun sering bertanya ulang soal riwayat pasien, apa lagi bila dokternya berganti. Yang lebih serius lagi bila sipasien dalam keadaan kritis atau tak dapat bekomunikasi. Lalau bagaiman dokter mengetahui penyakit dan riwayat penyakit, obat-obatan yang pernah diberikan? Bahkan nama dokter yang menangani selama ini?” Lanjut Cahirul.
Untuk menjawab segala tantangan yang menuntut pelayanan serba cepat dan tepat dan nyaman, kini RSUP Fatmawati tepatnya di pelayanan eksekutif Griya Husada melakukan Taranspormasi IT yang dimulai merupakan jawaban semua pertanyaan selama ini, peralihan dari sistem manual ke digital dengan menggunakan smart card sudah mulai diterapkan. Takan ada masalah besar bila ada pasien yang datang berkunjung, berobat atau dalam keadaan darurat. dokter atau perawat yang menerima, hanya tinggal membuka smart card si pasien, dalam waktu singkat otomatis semua data rekam medis pasien akan terbaca.
Smart card yang digunakan merupakan yang tercanggih saat ini, yaitu menggunakan chip contactless yang berkomunikasi dengan cara induksi RFID dengan kecepatan pertukaran data dari 106 sampai 848 kbit/detik.
Tak ada gesek-mengesek. Hanya tinggal dekatkan kartu ke card reader, komputer dengan touch screen akan menampilkan semua data pasien, mulai dari data kunjungan, riwayat penyakit, obat-obatan dan dokter yang menangani. Inilah yang belum di terapkan di rumah sakit lain, kartu elektronik yang ada hanya sebatas kartu pengenal. Belum sebagai kartu pintar. 
sumber : http://vulcan3.sip.co.id/

Kamis, 19 Mei 2011

e-Health di Canada (sangat komprehensif dan terintegrasi)

eHealth is an overarching term used today to describe the application of information and communications technologies in the health sector. It encompasses a whole range of purposes from purely administrative through to health care delivery. For example:
  • within the hospital care setting, eHealth refers to electronic patient administration systems; laboratory and radiology information systems; electronic messaging systems; and, telemedicine -- teleconsults, telepathology, and teledermatology, to name a few
  • within the home care setting, examples include teleconsults and remote vital signs monitoring systems used for diabetes medicine, asthma monitoring and home dialysis systems
  • within the primary care setting, eHealth can refer to the use of computer systems by general practitioners and pharmacists for patient management, medical records and electronic prescribing.
A fundamental building block of all these applications is the Electronic Health Record, which allows the sharing of necessary information between care providers across medical disciplines and institutions. Other important uses of eHealth are found in the areas of continuous medical education and public health awareness and education.

eHealth is an essential element of health care renewal: its application to Canada's health care system will result in benefits to Canadians through improvements in system accessibility, quality and efficiency. The Government of Canada has been making investments in this area since the 1997 Federal Budget, including federal commitments towards First Ministers Agreements (September 2000 and 2003). A key factor in the success of the Government's work is its strong commitment to collaboration.

Health Canada's priorities and efforts have focused on addressing policy issues and challenges in mainstreaming eHealth services within Canada's health care system and in measuring progress in the deployment and investment of these services.

For example, recognizing the benefits of electronic prescribing, Health Canada undertook a review of its federal statutes to determine whether amendments are required to enable e-prescribing. Health Canada has since determined that Part C of the Food and Drugs Regulations made under the Food and Drugs Act, and regulations made under the Controlled Drugs and Substances Act do not present any impediments to e-prescribing, and that electronically generated and transmitted prescriptions are permissible to the extent that they achieve the same regulatory objectives as written prescriptions.

sumber : Health Canada

E-Health Solusi Perbaikan Kualitas Kesehatan di Indonesia (semoga!!!)

Perkembangan dunia kesehatan di Indonesia khususnya baik dari sudut pandang treatment yang ditemukan untuk menyembuhkan atau menangani suatu penyakit, hasil-hasil penelitian baru yang memiliki nilai tambah dalam tatanan praktik serta teknologi pendukung baik sebagai alat bantu treatment maupun teknologi informasi dan komunikasi yang cukup pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, menuntut dukungan dan peran aktif dari semua stakeholders yang terlibat didalamnya baik secara langsung maupun tidak.
 
Pemerintah sebagai salah satu stakeholder yang berperan sangat penting melalui Kementrian Kesehatan bekerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika sudah sejak awal tahun 2005 mencanangkan program layanan kesehatan terintegrasi (e-health Indonesia) dengan tujuan untuk mewujudkan pemerataan layanan kesehatan bagi seluruh wilayah di Indonesia khususnya daerah-daerah yang selama ini sangat sulit dijangkau oleh treatment kesehatan yang berkualitas serta teknologi penunjang sarana kesehatan (Djalil, 2005).
 
Program yang dicanangkan oleh 2 (dua) kementrian tersebut merupakan angin segar bagi perbaikan kualitas layanan kesehatan di Indonesia. Akan tetapi berbagai macam kendala dan hambatan yang berpotensi untuk dapat mengganggu terwujudnya program tersebut tidaklah sedikit, salah satunya adalah kesiapan sumber daya manusia dalam mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi yang masih belum merata, adanya resistensi untuk berubah dari beberapa kalangan yang sudah merasa nyaman dengan metode dan prosedur yang ada saat ini serta faktor klasik lainnya yaitu karakteristik geografis Indonesia yang sangat luas dan terdiri dari berbagai macam pulau (Djalil, 2005).